´╗┐

Olahraga kardio ternyata tak hanya bermanfaat untuk tubuh tapi juga fungsi otak manusia. Hal ini dibuktikan lewat dua riset yang berbeda. Riset pertama diterbitkan dalam The Journal of Physiology yang meneliti efek olahraga lari maupun latihan interval intensitas tinggi dan latihan resistensi pada otak tikus jantan dewasa. Hasil menunjukan, mereka yang melakukan aerobik secara teratur dengan berlari di atas roda menunjukan pertumbuhan sel otak yang paling signifikan. Sementara itu, pertumbuhan tertinggi kedua dialami oleh tikus yang melakukan lari cepat sebagai simulasi dari latihan interval intensitas tinggi.

Namun, hasil yang berbeda ditemukan pada tikus yang diatur untuk memanjat dengan ekor yang diberi beban guna sebagai simulasi latihan angkat besi, serta tikus yang tak melakukan olahraga apapun. Tikus yang tak melakukan aktivitas olahraga atau yang melakukan simulasi latihan angkat besi tidak mengalami pertumbuhan sel otak yang baru. Jadi, riset ini membuktikan olahraga kardio dapat meningkatkan kemampuan otak. Atau, setidaknya membantu mengganti sel otak yang telah rusak. Penelitian kedua yang akan dipublikasikan di Preventive Medicine juga menemukan hubungan yang kuat antara olahraga kardio dan risiko depresi.

Penelitian yang dipimpin oleh Felipe B. Schuch dari Centro Universitário La Salle, Brazil, ini menggunakan tiga riset yang berbeda. Riset dilakukan dengan menilai tingkat kebugaran satu juta subyek penelitian. Hasil riset menemukan peserta dengan tingkat kebugaran kardiorespirasi yang rendah berisiko 75 persen untuk mengalami depresi. Sementara itu, mereka yang memiliki tingkat kebugaran kardiorespirasi sedang berisiko 23 persen untuk mengalami depresi. "Riset ini bertujuan untuk menilai apakah tingkat kebugaran fisik berpengaruh pada risiko depresi," kata Schuch.

Dari hasil riset ini, ia mengatakan jika tingkat kebugaran dapat ditingkatkan lewat aktivitas fisik. Oleh karena itu, aktivitas fisik dapat digunakan untuk mencegah depresi. Hasil ini semakin membuktikan kombinasi meditasi dan latihan aerobik juga efektif dalam mengurangi gejala gangguan depresi mayor. Dengan kata lain, olahraga kardio tak hanya bermanfaat bagi fisik tapi juga kondisi mental kita. (KOMPAS.com)

Di balik tubuhnya yang kekar, aktor Dwayne ' The Rock' Johnson ternyata harus bergelut dengan masalah kesehatan mental. Beberapa waktu lalu, Aktor dengan bobot tubuh 117 kilogram ini sampai mengucurkan air mata ketika menceritakan tentang perjuangannya melawan depresi. Pada akhirnya The Rock memang memenangkan pertempuran tersebut. Ia memilih menyibukkan pikirannya dengan berolahraga untuk mengusir depresinya. "Tendangan adalah semacam reaksi spontan diri saya atas kesedihan. Saya suka melakukan banyak hal. Ini memang terdengar membosankan dan klise. Tapi, itu cara ampuh untuk diri saya sendiri, saya harus pergi ke gym," paparnya dalam sesi wawancara. Menurutnya, berkeringat dan menyalurkan energi dengan olahraga membuatnya tak lagi memikirkan hal-hal yang menyedihkan dalam hidupnya.

Pria 46 tahun ini juga mengaku membiarkan dirinya sedikit larut dalam kesedihannya. Bahkan, ia mendengarkan lagu-lagu sedih dan membiarkan perasaanya berlalu. Bagaimanapun juga, ia percaya jika menangis juga baik untuk kesehatan mental.

Lewat akun twitternya, aktor kelahiran Amerika ini juga mengakui dirinya terkadang menikmati kesedihan yang dialaminya dengan diringi oleh musik melankolis. Melawan depresi merupakan pekerjaan yang berat. Penelitian membuktikan, olahraga memang cara ampuh untuk melawan depresi. Dilansir dari laman Men's Health, riset 2014 terhadap 11.000 orang membuktikan mereka yang aktif berolahraga mengalami penurunan gejala depresi secara bermakna. (KOMPAS.com)

Konsumsi garam bagi sebagian orang dianggap sama dengan gula. Rasanya mungkin enak, namun harus dibatasi asupannya. Padahal, kandungan sodium yang rendah pada tubuh akan menyebabkan hiponatremia, gangguan pencernaan, masalah syaraf, hingga sakit kepala ekstrim. Dalam hal performa atlet, kekurangan sodium dinilai bisa membuat otot lebih lemah, olahraga terasa lebih berat, dan dehidrasi menjadi lebih parah. "Ketahanan atlet dikenal berada di bawah konsumsi sodium, khususnya pada grup fitness atau mereka yang menyukai olahraga intensitas tinggi, dan kelompok makan bersih," ujar Psikolog olahraga dan ahli nutrisi, Stacy Sims. Terkait dehidrasi, sodium disebut membantu menyimpan cairan dalam tubuh, terutama volume plasma darah. Psikolog olahraga dan konsultan performa di Renaissance Periodization Alex Harrison menjelaskan, ketika cadangan sodium menipis (kekurangan 2-4 persen dari berat tubuh), maka performa jantung juga akan terpengaruh. "Ketika sodiumnya rendah, tubuh akan dehidrasi dan jantung bekerja lebih sulit untuk mencapai kerja tertentu," kata Harrison.

Sementara, olahraga semacam kardio adalah kegiatan yang membutuhkan pompa darah yang kencang dari jantung. Penurunan volume darah dan denyut jantung yang semakin kencang akan menimbulkan masalah. Efek dehidrasi juga bisa menyebabkan pusing dan lesu, sehingga akan berisiko ketika seseorang mencoba mengangkat beban. Selain itu, sodium juga merupakan perantara syaraf. Tanpa elemen sodium yang cukup, sinyal elektrik dalam tubuh akan menurun. Artinya, otot tidak bisa terbakar cepat dan urat tak akan berkontraksi. "Hal ini menyebabkan otot melemah, dan membuat kita merasa lesu sepanjang latihan," kata Sims. Sinyal "elektrik" yang melemah juga sekaligus menandakan aliran nutrisi (potasium, kalsium, dan sodium) untuk regenerasi otot turut melemah.

Hal ini akan membuat kita tidak bisa berolahraga maksimal. Yang membutuhkan garam Semakin banyak dan semakin lama kita berkeringat, maka semakin banyak tubuh kita membutuhkan sodium. Harrison memperkirakan sekitar 75 persen dari atlet yang bekerjasama dengannya, bekerja di bawah pengaruh garam, untuk aktivitas berkisar 6-20 jam per minggu. Atlet triathlon amatir meningkatkan rekor waktu mereka dan mereduksi massa otot lebih banyak ketika mereka mengonsumsi suplemen garam sebelum dan sesudah lomba triathlon jarak jauh, half Ironman. Demikian kesimpulan dalam sebuah studi di The Scandinavian Journal of Medicine & Science in Sports pada 2016. Namun, orang-orang yang hanya berolahraga 3-5 jam per minggu tidak perlu membatasi konsumsi garam karena mereka sudah dalam batas wajar.

Sementara, sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of The International Society of Sports Nutrition menemukan, atlet olahraga intensitas tinggi meningkatkan konsumsi air dan elektrolitnya.

Dengan demikian, mereka mampu menggunakan tenaga secara optimal, pulih lebih cepat, serta meningkatkan atensi dan kewaspadaan. Berapa jumlah sodium yang diperlukan? Kedua pakar di atas sepakat, tidak ada jumlah pasti tentang konsumsi garam ideal. Tidak seperti asupan protein atau karbohidrat yang memiliki patokan tertentu. "Hal ini bergantung pada suhu, tipe olahraga, dan durasi, tipe pakaian, serta faktor genetis dari konsentrasi ion tubuh," kata Harrison. Bagi beberapa orang, 1.000-1.500mg garam dianggap ideal, namun ada pula mereka yang merasa belum cukup dengan 10.000mg untuk olahraga berdurasi panjang.

Sims juga menegaskan, kebutuhan setiap orang berbeda setiap harinya. Beberapa orang mengkhawatirkan asupan garam berlebihan. Padahal, riset menunjukkan, hanya orang-orang dengan tekanan darah tinggi yang perlu mengkhawatirkan asupan garam. Harrison menambahkan, ginjal juga akan mengeluarkan kelebihan sodium apabila kita terlalu banyak mengonsumsinya.

Harrison menyarankan setidaknya konsumsi 1.500mg pada hari ketika kita melakukan olahraga di bawah sejam. Jika lebih dari itu, Harrison merekomendasikan 2.300mg per hari atau mendekati 4.000mg jika kita berkeringat selama lebih dari dua jam. Minuman olahraga selama dan setelah olahraga juga bisa membantu. Namun, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menyertakan sodium pada makanan asli selama sehari penuh. Artinya, kita bisa menaburkan sedikit garam pada makanan, minuman, atau sup. (KOMPAS.com)

Olahraga adalah kebutuhan. Jika kita tidak memenuhi kebutuhan ini, tubuh yang akan memintanya sendiri. Tubuh akan memberikan berbagai macam tanda agar kita segera bergerak. Apa saja tanda kurang olahraga yang diberikan tubuh? Ini ulasannya.
1. Selalu lelah

Jika kamu merasa lelah sepanjang waktu, meski sudah makan dan tidur yang cukup, mungkin yang kamu butuhkan adalah olahraga. Merasa selalu lelah kok malah butuh olahraga? Apa tidak salah? Tenang dulu. Sebuah penelitian dari University of Georgia menunjukan bahwa hanya berjalan 20 menit dan latihan aerobik intensitas sedang sebanyak 3 kali seminggu dengan rutin bisa meningkatkan energi hingga 20 persen. Para peneliti mengatakan, temuan ini menunjukan bahwa olahraga yang teratur akan berpengaruh langsung pada sistem saraf pusat untuk memerangi kelelahan bahkan bisa sebanyak 65 persen Olahraga yang teratur meningkatkan fungsi sistem kardiovaskular, yang memungkinkan kita memiliki daya tahan lebih besar sepanjang hari. Ketika kita lebih mudah melakukan aktivitas sehari-hari, kita akan memiliki sisa energi lebih banyak dan tidak mudah merasa lelah. Ternyata, semakin sering berolahraga membuat mitokondria (bagian yang memproduksi energi dalam sel) semakin banyak. Ini artinya, tubuh akan memiliki cadangan energi yang kian banyak juga, sehingga tak cepat lelah.

2. Badan terasa pegal-pegal

Pernahkah kamu merasa saat bangun di pagi hari, tiba-tiba punggung belakang, lutut, atau bahu terasa sakit? Padahal tidak habis melakukan aktivitas yang berat. Nah jika ya, ini juga bisa jadi tanda kurang olahraga. Terkadang rasa pegal-pegal ini membuat orang menunda untuk berolahraga. Padahal sebaliknya, ketika ini terjadi tubuh memberikan sinyal untuk digerakkan. Dengan menggerakan otot-otot, persendian akan rileks dan darah mengalir lebih lancar ke seluruh bagian tubuh, sehingga akan mengurangi rasa sakit. Bahkan orang yang memiliki rasa pegal dan sakit jangka panjang seperti rheumatoid arthritis, bisa meringankan gejala yang dirasakan jika melakukan olahraga teratur.

3. Merasa stres yang bertubi-tubi

Apakah akhir-akhir ini kamu merasa selalu stres? Memikirkan banyak hal, cemas, takut terhadap hal ini atau hal itu? Hati-hati ini juga bisa jadi tanda tubuh sangat butuh olahraga. Dengan berolahraga kita akan merasa lebih tenang dan senang. Olahraga meningkatkan kadar endorfin di dalam tubuh. Endorfin adalah hormon alami yang akan memberikan efek rasa senang dan tenang. Jadi, setelah olahraga suasana hati akan jauh lebih baik karena adanya hormon tersebut.

4. Tak pernah merasa kenyang

Mungkin kamu mengira dengan tidak berolahraga tubuh akan mengirit energi agar tidak mudah lapar? Justru sebaliknya, ketika kamu merasa terus lapar, ini bisa jadi tanda kurang olahraga. Jadi, ketika kurang olahraga tubuh akan merasa lelah. Nah, tubuh yang lelah sebenarnya bisa menghasilkan lebih banyak hormon ghrelin (hormon yang mengatur sensor lapar). Banyaknya hormon ini menyebabkan kita ingin makan lebih banyak sepanjang hari. Olahraga adalah penekan nafsu makan yang baik. Orang yang berolahraga secara teratur akan bisa mengendalikan hormon tersebut lebih baik, sehingga perasaan lapar tetap terjaga.

5. Konstipasi atau sembelit

Kamu sering mengalami sembelit atau konstipasi? Bisa jadi ini tanda kurang berolahraga, bukan hanya kurang makan makanan berserat saja. Olahraga membantu melancarkan gerakan sistem pencernaan. Ketika seseorang kurang olahraga, proses pencernaan tubuhnya juga akan ikut melambat. Apalagi orang yang memiliki banyak lemak viseral (lemak abdominal atau lemak perut) dan mengalami buang air besar yang tidak teratur, risiko terkena kanker kolorektal akan semakin meningkat.

6. Berat badan makin naik

Apakah berat badanmu semakin meningkat di atas timbangan? Atau ketika melihat cermin kamu merasa ada perubahan fisik? Nah, ini juga bisa jadi tanda kurang berolahraga. Bahkan atlet profesional yang berhenti latihan selama 5 minggu saja bisa mengalami peningkatan persen lemak dalam tubuhnya sebanyak 12 persen. Alhasil peningkatan lemak ini juga meningkatkan berat badan dan lingkar pinggang, dilansir dalam Journal of Strength and Conditioning Research tahun 2012. Hal lain juga ditunjukan oleh penelitian dalam PLOS one tahun 2016 yang melibatkan atlet taekwondo. Atlet yang tidak melakukan latihan selama 8 minggu juga mengalami peningkatan lemak tubuh sebanyak 21,3 persen, peningkatan berat badan 2,12 persen, dan bahkan mengalami penurunan massa otot. Nah, apalagi jika sudah lebih dari 8 minggu tidak pernah berolahraga. Dengan perilaku makan yang sama atau bahkan semakin banyak, aktivitas fisik yang semakin berkurang, tidak heran tubuh akan menumpuk kalori dari makanan dan meningkatkan berat badan. Ini wajar, ketika tubuh tidak berusaha membakar kalori yang masuk, alhasil semua menumpuk.

7. Kesulitan tidur

Jika kamu merasa sulit tidur khususnya pada malam hari, ini bisa jadi sebuah tanda perlu berolahraga. Dilansir dalam laman WebMD, sebuah penelitian menunjukan bahwa orang yang melakukan olahraga 30-40 menit 4 kali dalam seminggu mengalami peningkatkan kualitas tidur, rasa kantuk di siang hari berkurang, dan merasa lebih nyaman keesokan harinya saat beraktivitas. Olahraga dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres. Ini akan memperkuat ritme sirkadian, yakni proses biologis tubuh yang bisa menentukan siklus tidur seseorang. Olahraga membuat orang bisa membawa kantuknya pada malam hari secara penuh, dan kembali segar di keesokan harinya. (KOMPAS.com)

Page 1 of 67

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM