Lifestyle



Tahukah Anda kalau cara jalan bisa menunjukkan kepribadian seseorang? Pada umumnya, kesan pertama bisa dinilai dari penampilan, ucapan, dan perilaku Anda terhadap orang lain. Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Social Psychological and Personality Science menyatakan bahwa cara berjalan seseorang juga bisa mencerminkan kepribadiannya. Benarkah demikian?

Studi baru ini menemukan bahwa orang dengan tipe kepribadian ekstrovert berjalan lebih cepat daripada orang dengan tipe kepribadian introvert. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Amerika Serikat dan Perancis ini, menggunakan data dari lebih dari 15.000 orang dewasa berusia 25 sampai 100 tahun untuk melihat apakah ciri kepribadian terkait dengan gaya berjalan atau tidak.

Kepribadian para peserta penelitian dinilai melalui survei dan dinilai berdasarkan lima ciri kepribadian Big Five, yang mencakup ekstraversi, sifat berhati-hati (conscientiousness), keterbukaan (openness), mudah akur atau sepakat (agreableness), dan neurotisme/ neurotik.

Orang dengan kepribadian ekstrovert cenderung mendapatkan energi, inspirasi, dan motivasi dari interaksi sosial dengan orang lain (eksternal). Kebalikannya, orang dengan kepribadian introvert cenderung lebih fokus dan bisa mendapatkan energi, inspirasi, dan motivasi dari dalam diri sendiri (internal) atau hanya dari orang-orang terdekatnya saja dalam jumlah kecil.

Ternyata, kepribadian ekstrovert lebih sering dikaitkan dengan rata-rata jalan yang lebih cepat, yaitu sekitar 0,06 meter per detik lebih cepat daripada orang dengan kepribadian introvert. (kompas.com)

Bersalaman atau jabat tangan adalah bentuk ekspresi yang lumrah dilakukan, baik di belahan dunia barat maupun timur. Akan tetapi, sebenarnya setiap orang dari setiap budaya memiliki cara salaman yang khas.

Apa yang membedakan cara salaman masing-masing orang? Benarkah gaya salaman seseorang bisa menunjukkan kepribadiannya?

Menurut Jesse Bering, seorang ahli ilmu komunikasi dari University of Otago New Zealand dalam Scientific American, catatan mengenai jabat tangan sudah muncul sekitar abad ke-12 SM. Bukti-bukti sejarah juga telah membuktikan bahwa jabat tangan banyak terjadi di Afrika, Indian, Guatemala, dan Asia Tengah sejak masa lampau.

Dulu, salaman memiliki beberapa arti. Pertama, menunjukkan maksud untuk berdamai. Mengapa begitu? Orang yang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan ingin menunjukkan bahwa dia bertangan kosong dan tidak membawa senjata apa pun serta tidak memiliki penyakit menular.

Kemudian, gerakan naik turun diartikan proses pembuangan senjata seperti pisau yang bisa saja disembunyikan di dalam lengan baju orang yang bersalaman.

Selain itu, makna lain dari salaman adalah sebagai simbol kepercayaan tinggi terhadap perjanjian atau janji yang telah dibuat.

Walaupun tidak sama persis, ternyata bentuk salaman juga ada pada hewan seperti simpanse. Namun, ada perbedaan yang cukup kentara antara cara salaman manusia dan simpanse.

Salaman yang dilakukan oleh simpanse dilakukan untuk menunjukkan dominasi atau kekuasaan. Jadi, simpanse yang mengulurkan tangannya duluan berarti ia lebih berkuasa dibandingkan simpanse yang diajak bersalaman.

Menunjukkan kepribadian

Ternyata salaman juga bisa menunjukkan kepribadian atau maksud orang yang melakukannya. Ini dilihat dari cengkeramannya, berapa lamanya, hingga bahasa tubuh ketika sedang berjabat tangan.
Salaman yang kuat dan kencang

Salaman yang dilakukan dengan keras biasanya dilakukan oleh mereka yang punya maksud mendominasi. Lillian Glass, Ph.D., seorang ahli bahasa tubuh dari Amerika Serikat berpendapat bahwa salaman jenis ini layaknya pertempuran untuk menujukkan siapa yang paling berkuasa.

Sebuah penelitian oleh para psikolog dari University of Alabama di AS juga menguak fakta yang serupa. Salaman dengan genggaman tangan yang kuat, kontak mata, dan durasi yang cukup lama menunjukkan sifat ekstrovert dan lebih terbuka terhadap pengalaman baru.

Orang-orang dengan sifat demikian umumnya memang memiliki kecenderungan lebih besar untuk menjadi sosok yang dominan atau berkuasa.

Salaman yang lemas

Masih dalam penelitian dari University of Alabama, orang yang berjabat tangan dengan sangat pelan dan lemas ternyata cenderung menunjukkan kepribadian yang lebih mudah cemas, gugup, atau stres. Kondisi mental ini disebut dengan neurosis.

Akan tetapi, menurut Lillian Glass, salaman yang lemas juga bisa menandakan bahwa Anda tidak terlalu tertarik atau menghargai orang yang bersalaman dengan Anda. Yang ada di pikiran Anda hanyalah untuk cepat-cepat selesai berbasa-basi.

Salaman tanpa tatap mata

Memang ada beberapa orang yang merasa canggung saat bertatapan mata dengan orang lain. Apalagi dengan orang asing. Karena itu, bila Anda sering bersalaman tanpa bertatapan mata dengan orang lain, bisa jadi Anda adalah orang yang memang kurang nyaman berada di situasi-situasi sosial atau bahkan mengidap fobia sosial.

Namun, sekali lagi cara salaman ini juga bisa mengartikan hal yang berbeda. Misalnya Anda sebenarnya malas atau tidak tertarik untuk berjabat tangan dengan orang lain. Jadi belum tentu punya fobia sosial, Anda hanya sedang tidak minat saja untuk beramah-tamah dengan orang yang bersalaman dengan Anda.

Salaman yang kelamaan

Kalau salaman tanpa tatap mata menunjukkan kecanggungan, salaman dengan tatap mata yang terlalu lama bisa menandakan sifat yang agresif. Begitu juga kalau Anda menjabat tangan seseorang terlalu lama.

Menurut para ahli bahasa tubuh, durasi salaman yang tepat tidak lebih dari dua detik. Karena itu, bila Anda tidak ingin terlihat terlalu agresif, tidak perlu salaman terlalu lama. (kompas.com)

Sinar matahari ternyata tak cuma berfungsi untuk menghangatkan tubuh dan menerangi bumi. Namun kenyataannya, matahari juga bisa membuat Anda jadi lebih bahagia. 

Mengutip Medical Daily, menurut penelitian yang dilakukan di Brigham Young University, lamanya waktu antara matahari terbit dan terbenam akan bisa memengaruhi mood seseorang. Hal ini jauh lebih berpengaruh dibanding temperatur, polusi, dan hujan. 

Penelitian tersebut meneliti bagaimana mood seseorang dipengaruhi oleh cuaca dan faktor lainnya. Tim menemukan bahwa seseorang akan lebih mudah mengalami stres saat matahari hanya bersinar sebentar. Hasil penelitian membuktikan bahwa lamanya matahari bersinar akan memengaruhi mood seseorang dibanding banyaknya jumlah sinar matahari yang diserap. 

Kesimpulan ini didapatkan setelah peneliti memeriksa data meteorological dari jurusan Fisika dan Astronomy Weather Station serta data polusi dari US Environmental Protection Agency. Mereka juga membandingkan cuaca dengan kesehatan mental pasien di Brigham Ypung's Counseling and Psychological Services Center. 

"Ini adalah hal yang mengejutkan dalam penelitian kami," kata penulis studi Mark Beecher. 

"Di hari hujan atau hari berpolusi, orang berasumsi bahwa mereka akan merasa tertekan. Tapi kami tidak melihatnya demikian."

"Kami membandingkannya dengan situasi pengukuran radiasi matahari, jumlah cahaya yang diterima permukaan tanah. Hasilnya, satu hal yang sangat signifikan adalah lamanya waktu antara matahari terbit sampai terbenam." (cnnindonesia.com)

Perfeksionis artinya ingin segala sesuatunya menjadi sempurna atau tanpa kekurangan setitik pun. Memiliki jiwa perfeksionis memiliki nilai positif dan negatif pula. Untuk mengenali seseorang dengan karakter yang perfeksionis, berikut ini adalah 5 tandanya seseorang yang perfeksionis seperti disarikan dari laman magforwomen.com, Selasa (04/04/2017).

1. Berusaha keras untuk mendapatkan penilaian yang baik
Seseorang yang selalu berusaha keras untuk mendapatkan penilaian yang baik di mata orang lain adalah salah satu tanda orang yeng perfeksionis. Biasanya, ia akan cemas jika ada hal-hal yang tidak baik terjadi padanya.

2. Sangat kompetitif
Orang yang perfeksionis biasanya memiliki jiwa yang sangat kompetitif. Ia suka berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik di mata semua orang.

3. Terobsesi dengan kesalahan
Orang yang perfeksionis biasanya sangat tidak suka untuk melakukan kesalahan. Ia akan menjadi sangat tidak nyaman jika melakukan kesalahan. Ia ingin segala sesuatunya terjadi dengan benar, baik, dan lancar.

4. Gigih
Orang yang perfeksionis juga biasanya memiliki jiwa yang gigih dan pantang menyerah. Jika ia gagal, maka ia akan terus mencoba sampai ia berhasil.

5. Tidak ada kesempatan untuk melakukan kesalahan sedikitpun
Orang yang perfeksionis tidak ingin membuat kesalahan apapun dalam hidupnya. Ia senantiasa ingin segalanya berjalan dengan mulus. (liputan6.com)

Page 1 of 2

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM