Lifestyle



Olahraga membantu membakar kalori berlebih dan membuat tubuh tetap sehat. Banyak juga yang berolahraga untuk tujuan kebugaran seperti menambah massa otot, menurunkan berat badan dan memperindah bentuk tubuh.

Setelah berolahraga, kita pasti berkeringat yang membuat kita mengalami dehidrasi dan energi terkuras. Dalam hal ini, kita perlu kembali mengonsumsi makanan yang bisa membangkitkan energi dan menghidrasi tubuh.

Karenanya sangat penting untuk mengkonsumsi makanan kaya gizi yang membantu tubuh tetap bugar. Sayangnya, beberapa orang justru mengonsumsi makanan yang merusak fungsi dari olahraga itu sendiri.

Kita harus menghindari makanan semacam itu agar olahraga yang telah kita lakukan tidak sia-sia. Berikut beberapa makanan yang harus dihindari usai berolahraga.

1. Cokelat susu

Susu coklat mengandung banyak gula dan kalori, jadi jangan mengonsumsi cokelat susu setelah berolahraga. Jika ingin menikmati cokelat, konsumsilah cokelat hitam yang mengandung setidaknya 70 persen bubuk cocoa.

Cokelat hitam kaya akan anti oksidan dan hanya sedikit mengandung gula. Jadi, setelah berolahraga, sebaiknya kita mengonsumsi cokelat jenis ini.

2. Sayur mentah

Ini barangkali membuat kamu terkejut. Namun, sayuran yang dimasak lebih bermanfaat bagi kesehatan.

Setelah dimasak, sayuran seperti brokoli dan capsicum lebih bersih dan bermanfaat bagi kesehatan. Jadi konsumsi sayuran yang dimasak bukan makan sayuran mentah.

3. Soda

Meskipun soda membantu kita memadamkan rasa haus dan membuat kita merasa segar, minuman ini tidak baik bagi kesehatan. Soda mengandung banyak gula yang jika dikonsumsi berlebihan bisa berakibat buruk pada tubuh.

Jadi jika kita berolahraga untuk menurunkan berat badan, maka jangan pernah mengonsumsi soda.

4. Makanan tinggi protein

Makanan berprotein tinggi sulit dicerna bagi tubuh. Setelah berolahraga, tubuh tidak memiliki cukup energi untuk mencerna makanan kaya protein.

Oleh karena itu, kita sebaiknya tidak lagsung mengkonsumsi makanan yang kaya protein setelah berolahraga. Tunggulah beberapa saat setelah beristirahat, baru mengasup makanan seperti ini.

5. Makanan pedas

Makanan pedas juga bisa menyebabkan masalah pencernaan. Makanan ini bisa memberi tekanan ekstra pada sistem pencernaan kita.

Oleh karena itu, kita harus menghindari makanan pedas usai berolahraga. (kompas.com)

Apakah Anda termasuk orang yang mudah tertidur di pesawat, bahkan sebelum pesawat lepas landas dan akan mendarat? Menurut sejumlah peneliti, sebaiknya kebiasaan itu tidak diteruskan karena dapat menyebabkan masalah kesehatan.

Ketika pesawat naik ke udara atau pun turun, tekanan udara di kabin berubah secara cepat mengikuti ketinggian—dan jika Anda tidak siap beradaptasi, hal tersebut bisa merusak gendang telinga.

Seperti yang dijelaskan pakar kesehatan Inggris, Angela Chalmers. “Sebuah perubahan cepat di ketinggian berdampak pada tekanan udara di telinga. Ini menyebabkan kekosongan di tabung Eustachian yang membuat telinga terasa seperti tersumbat dan tidak terdengar suara.”

Oleh karena itu, Chalmers menyarankan untuk tidak tidur selama lepas landas dan mendarat karena untuk mengurangi resiko tersebut.

Berdasarkan keterangan di situs MedlinePlus, sebuah situs informasi yang dikelola US National Library of Medicine, jika telinga Anda tetap tersumbat maka bisa menyebabkan beberapa masalah kesehatan—seperti pusing, infeksi di telinga, gendang telinga rusak dan yang lebih parah adalah telinga berdarah dan kehilangan pendengaran.

Berusaha tetap terjaga selama lepas landas dan mendarat membuat telinga mengimbangkan tekanan udara di dalam gendang telinga.

“Menelan atau menguap membuka tabung Eustachian dan membuat udara mengalir masuk dan keluar ke bagian tengah telinga. Ini membantu mengimbangi tekanan udara di masing-masing gendang telinga,” tulis MedlinePlus.

“Jika tabung Eustachian tersumbat, tekanan udara di bagian tengah telinga berbeda dengan tekanan di bagian luar gendang telinga.”

Nah, agar tidak mengantuk pada situasi kritis tersebut, atasi dengan mengunyah permen karet, minum air putih hingga makan permen lolipop. (kompas.com)

Terbatasnya waktu, rasa lelah, bisa menjadi alasan banyak orang untuk melewatkan sesi pendinginan usai olahraga. Seperti saat melakukan kompetisi lari misalnya, duduk-duduk usai berlari ternyata tak cukup dikatakan sebagai sesi pendinginan. Justru, langsung duduk santai usai olahraga dapat memicu cedera otot di kemudian hari.

Tak memberikan tubuh kesempatan untuk rileksasi setelah olahraga berat bisa memiliki beberapa konsekuensi yang tak menguntungkan. Walau Anda menganggapnya sepele (paling hanya pegal-pegal), hal ini sebenarnya bisa “menyakiti” tubuh dalam jangka panjang. Walau otot diciptakan cukup tangguh (tak ada masalah walaupun selama ini Anda lupa pendinginan) namun, ketangguhan itu bisa berkurang bila Anda sering melewatkan perawatan yang tepat.

Liz Letchford, MS, ATC, spesialis pencegahan cedera mengatakan, langsung duduk-duduk santai setelah melakukan olahraga dapat menyakiti otot. Ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan otot, keram, bahkan kejang.

Apapun olahraga yang Anda lakukan, hindari langsung duduk santai (tanpa peregangan). Walau Anda tak merasakan efeknya sekarang, nantinya otot Anda tidak akan membaik, tak akan tumbuh dengan baik.

Itu sebabnya banyak yang mengalami sakit otot setelah melakukan olahraga rutin selama 1-2 tahun, yang akhirnya membuat Anda harus berhenti olahraga karena cedera otot maupun sendi.

Lauren Clare, pelatih pribadi dan pelatih kesehatan holistik bersertifikat, menegaskan kebenaran ini. "Bila Anda tidak benar-benar melakukan pendinginan setelah berolahraga secara intens, tubuh Anda bisa menegang, yang menyebabkan proses pemulihan pasca latihan melambat. Penumpukan asam laktat di otot bisa membuat Anda merasa sakit dan letih selama beberapa hari berikutnya."

Sesi pendinginan memberi tubuh Anda kesempatan untuk "memanfaatkan” atau “menyiram” sisa laktat. Kita semua perlu melakukan pendinginan selama 5 sampai 10 menit setelah latihan untuk membantu meningkatkan fleksibilitas otot dan jangkauan gerak demi mengurangi risiko pegal yang parah hingga cedera.

Sebagai langkah pertama, lakukan peregangan daerah kaki, bahu, punggung dan lengan dalam posisi masih berdiri, selama 5-7 menit. Cara ini juga akan membantu tubuh menurunkan suhu secara bertahap. Lalu, lakukan peregangan sambil duduk, dan barulah diakhiri dengan duduk-duduk santai. (kompas.com)

Kerja keras adalah jalan menuju sukses, tapi bagaimana bila terlalu keras bekerja? Ada baiknya dikurangi karena dampaknya berbahaya bagi jantung.

European Heart Journal mempublikasikan studi yang menyimpulkan karyawan yang bekerja lebih dari 55 jam dalam sepekan cenderung mengalami kenaikan detak jantung yang tidak teratur, dibanding mereka yang bekerja dalam waktu standar yakni 35 sampai 40 jam dalam sepekan.

Para peneliti dari European Society of Cardiology mempelajari hampir 85.000 pria dan perempuan selama 10 tahun. Di awal peelitian, tak satu pun dari mereka memiliki gangguan irama jantung atau yang biasa dikenal sebagai Fibrilasi atrium atau AFib .

Tapi, 10 tahun kemudian, ada 1.061 kasus baru AFib dari para responden itu. Mereka yang bekerja lebih dari 55 jam seminggu memiliki kemungkinan 40 persen lebih besar beresiko mengalami AFib daripada mereka yang bekerja dalam waktu normal.

Hasil itu didapat bahkan setelah peneliti memasukkan faktor risiko AFib seperti usia, jenis kelamin, obesitas, merokok dan konsumsi alkohol.

"Sembilan dari 10 kasus atrial fibrillation terjadi pada orang-orang yang sebelumnya bebas dari penyakit kardiovaskular," tulis penulis penelitian tersebut.

"Ini menunjukkan bahwa peningkatan resiko terjadi pada orang yang jam kerjanya panjang dibandingkan dengan efek dari penyakit kardiovaskular yang ada sebelumnya. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme yang terkait.”

Penulis penelitian ini menyebut bahwa mereka hanya mencatat berapa banyak jam kerja dalam sepekan para pria dan wanita di awal penelitian, dibandingkan selama percobaan atau pada akhirnya. Namun, penulis mencatat bahwa pola kerja cenderung konsisten.

Laporan baru tersebut mendukung penelitian sebelumnya yang menghubungkan kerja lembur dengan peningkatan risiko stroke.

AFib sendiri merupakan aritmia jantung yang cukup banyak diderita dan diketahui berkontribusi terhadap stroke, gagal jantung dan demensia terkait stroke.

Sebuah laporan bulan Maret dari Australian National University memperingatkan bahwa titik kritis dimulai ketika seseorang bekerja 39 jam sepekan. Dengan durasi kerja tersebut, kesehatan fisik dan mental seseorang mulai terkikis karena terbatasnya waktu untuk beristirahat dan memiliki pola makanyang baik.

Sering kerja lembur juga diketahui bisa meningkatkan risiko cidera dan kematian, kenaikan berat badan, penggunaan alkohol dan frekuensi merokok yang lebih tinggi.

Sebuah studi tahun 2016 menemukan bahwa perawat yang bekerjama selama enam jam setiap hari lebih jarang sakit dan lebih produktif daripada perawat yang bekerja selama delapan jam.

Lagi pula, produktivitas kerja cenderung akan turun begitu kita bekerja lebih dari 48 jam per pekan. (kompas.com)

Page 1 of 3

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM